Pernahkah kamu berniat hanya mengintip live streaming selama 5 menit, tapi tanpa sadar sudah dua jam berlalu? Kamu tidak sendirian.
Di Indonesia, fenomena ini meledak lewat siaran nonstop yang memicu rasa penasaran kolektif. Kupas alasan psikologi penonton Marapthon bisa menjadi kunci untuk melihat mengapa konten digital saat ini bukan lagi sekadar video yang diedit rapi, melainkan kehidupan nyata yang disiarkan langsung, bahkan saat sang kreator sedang tidur.
Kalau mau tahu alasannya, simak sampai habis ya!
Fenomena Global: Lebih dari Sekadar Tren
Data terbaru dari Statista, jangkauan penonton live streaming global memang mengalami sedikit pergeseran dari 28,8% (Q2 2024) menjadi 26,8% (Q2 2025).
Namun, angka ini tetap membuktikan kalau lebih dari seperempat populasi digital dunia masih rutin mengkonsumsi siaran langsung setiap minggunya.
Penelitian dari Sjöblom & Hamari (2017) yang berfokus pada platform Twitch kasih gambaran lebih spesifik. Mulai dari mayoritas penonton aktif adalah pria usia kuliah (rata-rata 22 tahun) yang menghabiskan waktu hingga 11 jam per minggu hanya untuk menonton streamer favorit mereka.
Marapthon: Saat Tidur Pun Menjadi Konten
Di Indonesia, fenomena ini mencapai puncaknya melalui program Marapthon yang diinisiasi oleh Reza Arap. Berbeda dengan live streaming biasa, Marapthon mengusung konsep siaran 24 jam penuh tanpa henti selama periode tertentu.
Mengutip dari IDN Times, popularitas Marapthon terletak pada akses tanpa batas yang diberikan kepada penonton. Penonton bisa melihat sisi manusiawi sang kreator dalam berbagai kondisi.
Mulai dari, mereka saat makan, bercanda, hingga momen ekstrem di mana kamera tetap menyala saat streamer sedang tidur. Sistem interaksi lewat "hadiah" atau gift yang memicu suara notifikasi di layar membuat penonton merasa memiliki andil langsung dalam menemani dan "mengontrol" jalannya siaran.
Baca juga Mengenal Gejala Digital Fatigue pada Gen Z
5 Alasan Psikologis Mengapa Kita Betah Menonton
Berdasarkan penelitian yang sama dari Sjöblom & Hamari (2017) dengan pendekatan Uses and Gratifications, ada lima alasan mengapa manusia merasa puas saat menonton live streaming:
Cognitive (Kognitif)
Kebutuhan Informasi dan Transparansi Penonton ingin tahu bagaimana sisi asli kehidupan seorang figur publik tanpa filter.
Contoh Perilaku: Penonton sengaja menunggu hingga jam 3 pagi hanya untuk melihat rutinitas asli sang kreator sebelum tidur atau apa yang ia makan saat lapar di tengah malam.
Affective (Afektif)
Pencarian Hiburan Emosional Mencari sensasi emosi yang spontan, seperti tertawa bersama atau ikut tegang saat terjadi hal tak terduga dalam siaran.
Contoh Perilaku: Penonton merasa ikut senang dan tertawa terbahak-bahak saat melihat sang kreator melakukan tantangan lucu yang tidak direncanakan (spontan) di tengah live.
Social (Sosial)
Kebutuhan Berinteraksi dan Komunitas Kolom chat yang bergerak cepat menciptakan ilusi kehadiran teman, sehingga penonton tidak merasa sendirian.
Contoh Perilaku: Seseorang yang sedang bekerja lembur sengaja menyalakan live Marapthon di latar belakang agar merasa "ditemani" oleh ribuan orang lain yang juga sedang aktif di kolom komentar.
Tension Release (Pelepasan Ketegangan)
Pelarian dari Stres Menjadikan siaran tanpa akhir ini sebagai "suara latar" untuk mengalihkan pikiran dari masalah pekerjaan atau kehidupan pribadi.
Contoh Perilaku: Penonton yang lelah sepulang kantor langsung membuka live dan menontonnya berjam-jam tanpa tujuan khusus, hanya agar pikiran tidak memikirkan beban tugas esok hari.
Personal Integrative
Meningkatkan Gengsi dan Eksistensi Kebutuhan untuk merasa penting dan diakui di dalam sebuah ekosistem atau komunitas digital yang besar.
Contoh Perilaku: Penonton yang rela mengeluarkan uang demi mengirimkan "Gift" besar berkali-kali supaya namanya disebut oleh streamer dan dianggap sebagai "Sultan" atau anggota VIP oleh penonton lainnya.
Baca Juga Media Sosial: Sahabat atau Musuh Kesehatan Mental Kamu?
Dampak Positif & Negatif: Dua Sisi Mata Uang
Fenomena ini membawa dampak yang signifikan bagi kedua belah pihak:
Pandangan Psikologi: Hubungan Parasosial & Validasi
Psikiater ternama Dr. Alok Kanojia (Dr. K) menjelaskan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan Hubungan Parasosial. Simpelnya, ikatan emosional satu arah yang terasa sangat nyata bagi penonton.
Bagi banyak orang, ini adalah bentuk Social Compensation. Mereka yang merasa kesepian atau kurang mendapat pengakuan di dunia nyata menggunakan live streaming untuk mendapatkan validasi.
Saat streamer menyebut nama penonton setelah mendapatkan "hadiah", otak akan melepaskan dopamin yang memberikan rasa puas karena merasa "diakui" keberadaannya.
Antara Koneksi Nyata dan Validasi di Balik Layar
Akhirnya, program seperti Marapthon menjadi bukti betapa kuatnya kebutuhan manusia akan koneksi di era digital. Dukungan dari kreator favorit dengan kasih apresiasi tentu hal yang positif, selama dilakukan secara sadar dan tidak mengorbankan kesejahteraan diri.
Kamu pun jadi memahami psikologi penonton Marapthon serta sadar betapa kuatnya kebutuhan manusia akan koneksi di era digital.
Ingat, meskipun menonton Live Streaming terasa menyenangkan, fisik dan mental tetap butuh istirahat dari paparan layar yang berlebihan. Jangan sampai niatmu mencari pelarian justru membuatmu terjebak dalam kelelahan digital yang lebih parah.
FAQ
Sumber:
Statista (2025). Live streaming global reach report.
Sjöblom, M., & Hamari, J. (2017). Why do people watch live streams? An empirical study about motivations for usage and network effects.
IDN Times. Kenapa Marapthon Program Streaming Reza Arap Populer?
Dr. Alok Kanojia. HealthyGamerGG: The Psychology of Parasocial Relationships.

Komentar